RUU anti Pornografi & Pornoaksi (dilihat dari segi perempuan)Ini saya dapet dari milist...sekedar untuk melihat dan menginformasikan tentang RUU anti Pornografi dan pornoaksi... yang menurut saya sangat menggelikan. 11 Februari 2006 00:01:11wib Telah dilihat : 2219 kali Kategori : Bincang Bebas Keterangan : Topik ini tidak bisa dikomentari karena sudah ditutup. | |
| Komentar | |
| Penulis: Andre Sulaiman | Re: RUU anti Pornografi & Pornoaksi (dilihat dari segi perempuan)Memang aneh negara kita yah..... 13 Februari 2006 11:36:06 wib |
| Penulis: Chandra Tonny Afritz N | Re: RUU anti Pornografi & Pornoaksi (dilihat dari segi perempuan)Ritta Indrayani wrote : Pasal2 yang menurut saya harus dikritisi adalah: I. "larangan MEMPERTONTONKAN bagian tubuh tertentu yang sensual.." (Pasal 25) ..pidana penjara 2 - 10 tahun (Pasal 79), dalam Penjelasan Pasal 4: Bagian tubuh tertentu yang sensual ANTARA LAIN adalah alat kelamin, PAHA, PINGGUL, pantat, PUSAR, dan PAYUDARA PEREMPUAN, baik terlihat SEBAGIAN maupun seluruhnya. 13 Februari 2006 13:19:42 wib |
| Penulis: Karmela Amanda Hasan, Mel | Re: RUU anti Pornografi & Pornoaksi (dilihat dari segi perempuan)andre, good point 13 Februari 2006 14:42:50 wib |
| Penulis: Marcellino Eko Budi Santoso | Re: RUU anti Pornografi & Pornoaksi (dilihat dari segi perempuan)Well said !! 13 Februari 2006 16:12:26 wib |
| Penulis: Fr. Edy Santoso, Singomoto | Re: RUU anti Pornografi & Pornoaksi (dilihat dari segi perempuan)Mau bikin sejahtera rakyatnya aja nggak bisa, lha kok mau bikin aturan yang mengekang kebebasan masyarakat dalam berekspresi ... 13 Februari 2006 16:44:53 wib |
| Penulis: Gede Setiyana | Re: RUU anti Pornografi & Pornoaksi (dilihat dari segi perempuan)"Gede Setiyana : Ini kedua kalinya saya perhatikan anda memaki golongan tertentu. |
Abstract
Growth of information technology can improve performance and enable various activity can be executed swiftly, precisely and accurate , so that finally will improve productivity. Growth of information technology show the popping out of various activity type being based on this technology, like e-government, e-commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, and other, which is all the things have electronics based.
Intisari
Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Perkem-bangan teknologi informasi memper-lihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini, seperti e-government, e- commerce, e-education, e-medicine, e-e-laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.
Pendahuluan
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.
Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.
Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e
seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.
Evolusi Ekonomi Global
Sampai dua ratus tahun yang lalu ekonomi dunia bersifat agraris dimana salah satu ciri utamanya adalah tanah merupakan faktor produksi yang paling dominan. Sesudah terjadi revolusi industri, dengan ditemukannya mesin uap, ekonomi global ber-evolusi ke arah ekonomi industri dengan ciri utamanya adalah modal sebagai faktor produksi yang paling penting. Menjelang peralihan abad sekarang inl, cenderung manusia menduduki tempat sentral dalam proses produksi, karena tahap ekonomi yang sedang kita masuki ini berdasar pada pengetahuan (knowledge based) dan berfokus pada informasi (information focused). Dalam hal ini telekomunikasi dan informatika memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology).
Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa. Proses inilah yang membawa manusia ke dalam Masyarakat atau Ekonomi Informasi. Masyarakat baru ini juga sering disebut sebagai masyarakat pasca industri.
Apapun namanya, dalam era informasi, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi faktor dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha, sehingga jagad ini menjadi suatu dusun semesta atau “Global villageâ€?. Sehingga sering kita dengar istilah “jarak sudah mati” atau “distance is dead” makin lama makin nyata kebenarannya.
Peran Teknologi Informasi
Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi dan telekomunikasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa saja yang menguasai teknologi ini, maka dia akan menjadi pemimpin dalam dunianya. Teknologi informasi banyak berperan dalam bidang-bidang antara lain :
Bidang pendidikan(e-education).
Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka (Mukhopadhyay M., 1995). Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learningâ€?. Hal ini mengingatkan pada ramalan Ivan Illich awal tahun 70-an tentang “Pendidikan tanpa sekolah (Deschooling Socieiy)” yang secara ekstrimnya guru tidak lagi diperlukan.
Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya.
Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Namun, teknologi tetap akan memperlebar jurang antara di kaya dan si miskin.
Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi.
Alisjahbana I. (1966) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan pelatihan nantinya akan bersifat “Saat itu juga (Just on Time)�. Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner.
Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan “Computer-based Multimedia Communication (CMC)� yang bersifat sinkron dan asinkron.
Dari ramalan dan pandangan para cendikiawan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga� dan kompetitif.
Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang adalah:
- Berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh (Distance Learning). Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama.
- Sharing resource bersama antar lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan
- Perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku.
- Penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video.
Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan.
Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.
Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut: (1) Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya. (2) Interaksi dalam grup; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya. (3) Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya. (4) Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quis singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning (5) Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database. (6) Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web.
Mewujudkan ide dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya. Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware, maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi. Hanya satu yang selalu menjadi perhatian utama pengguna internet di Indonesia yaitu masalah bandwidth, tentunya dengan bandwidth yang terbatas ini mengurangi kenyamanan khususnya pada non text based material. Di luar negeri, khususnya di negara maju, pendidikan jarak jauh telah merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Metoda pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga dan orang lanjut usia (pensiunan). Beberapa tahun yang lalu pertukaran materi dilakukan dengan surat menyurat, atau dilengkapi dengan materi audio dan video. Saat ini hampir seluruh program distance learning di Amerika, Australia dan Eropa dapat juga diakses melalui internet. Studi yang dilakukan oleh Amerika, sangat mendukung dikembangkannya e-learning, menyatakan bahwa computer based learning sangat efektif, memungkinkan 30% pendidikan lebih baik, 40% waktu lebih singkat, dan 30% biaya lebih murah. Bank Dunia (World bank) pada tahun 1997 telah mengumumkan program Global Distance Learning Network (GDLN) yang memiliki mitra sebanyak 80 negara di dunia. Melalui GDLN ini maka World Bank dapat memberikan e-learning kepada mahasiswa 5 kali lebih banyak (dari 30 menjadi 150 mahasiswa) dengan biaya 31% lebih murah.
Dalam era global, penawaran beasiswa muncul di internet. Bagi sebagian besar mahasiswa di dunia, uang kuliah untuk memperoleh pendidikan yang terbaik umumnya masih dirasakan mahal. Amat disayangkan apabila ada mahasiswa yang pandai di kelasnya tidak dapat meneruskan sekolah hanya karena tidak mampu membayar uang kuliah. Informasi beasiswa merupakan kunci keberhasilan dapat me no long mahasiswa yang berpotensi tersebut.
Dalam Bidang Pemerintahan (e-government).
E-government mengacu pada penggunaan teknologi informasi oleh pemerintahan, seperti menggunakan intranet dan internet, yang mempunyai kemampuan menghubungkan keperluan penduduk, bisnis, dan kegiatan lainnya. Bisa merupakan suatu proses transaksi bisnis antara publik dengan pemerintah melalui sistem otomasi dan jaringan internet, lebih umum lagi dikenal sebagai world wide web. Pada intinya e-government adalah penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan hubungan antara pemerintah dan pihak-pihak lain. penggunaan teknologi informasi ini kemudian menghasilkan hubungan bentuk baru seperti: G2C (Governmet to Citizen), G2B (Government to Business), dan G2G (Government to Government).
Manfaat e-government yang dapat dirasakan antara lain: (1) Pelayanan servis yang lebih baik kepada masyarakat. Informasi dapat disediakan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, tanpa harus menunggu dibukanya kantor. Informasi dapat dicari dari kantor, rumah, tanpa harus secara fisik datang ke kantor pemerintahan. (2) Peningkatan hubungan antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Adanya keterbukaan (transparansi) maka diharapkan hubungan antara berbagai pihak menjadi lebih baik. Keterbukaan ini menghilangkan saling curiga dan kekesalan dari semua pihak. (3) Pemberdayaan masyarakat melalui informasi yang mudah diperoleh. Dengan adanya informasi yang mencukupi, masyarakat akan belajar untuk dapat menentukan pilihannya. Sebagai contoh, data-data tentang sekolah: jumlah kelas, daya tampung murid, passing grade, dan sebagainya, dapat ditampilkan secara online dan digunakan oleh orang tua untuk memilihkan sekolah yang pas untuk anaknya. (4) Pelaksanaan pemerintahan yang lebih efisien. Sebagai contoh, koordinasi pemerintahan dapat dilakukan melalui e-mail atau bahkan video conference. Bagi Indonesia yang luas areanya sangat besar, hal ini sangat membantu. Tanya jawab, koordinasi, diskusi antara pimpinan daerah dapat dilakukan tanpa kesemuanya harus berada pada lokasi fisik yang sama. Tidak lagi semua harus terbang ke Jakarta untuk pertemuan yang hanya berlangsung satu atau dua jam saja.
Tuntutan masyarakat akan pemerintahan yang baik sudah sangat mendesak untuk dilaksanakan oleh aparatur pemerintah. Salah satu solusi yang diperlukan adalah keterpaduan sistem penyelenggaraan pemerintah melalui jaringan sistem informasi on- line antar instansi pemerintah baik pusat dan daerah untuk mengakses seluruh data dan informasi terutama yang berhubungan dengan pelayanan publik. Dalam sektor pemerintah, perubahan lingkungan strategis dan kemajuan teknologi mendorong aparatur pemerintah untuk mengantisipasi paradigma baru dengan upaya peningkatan kinerja birokrasi serta perbaikan pelayanan menuju terwujudnya pemerintah yang baik (good govermance). Hal terpenting yang harus dicermati adalah sektor pemerintah merupakan pendorong serta fasilitator dalam keberhasilan berbagai kegiatan pembangunan, oleh karena itu keberhasilan pembangunan harus didukung oleh kecepatan arus data dan informasi antar instansi agar terjadi keterpaduan sistem antara pemerintah dengan pihak penggunan lainnya. Upaya percepatan penerapan e- Government, masih menemui kendala karena saat ini belum semua daerah menyelenggarakannya. Apalagi masih ada anggapan e-Government hanya membuat web site saja sosialisasinya tidak terlaksana dengan optimal. Namun berdasarkan Inpres, pembangunan sistem informasi pemerintahan terpadu ini akan terealisasi sampai tahun 2005 mendatang. Kendati demikian yang terpenting adalah menghapus opini salah yang menganggap penerapan e-Government ini sebagai sebuah proyek, padahal merupakan sebuah sistem yang akan memadukan subsistem yang tersebar di seluruh daerah dan departemen.
Bidang Keuangan dan Perbankan
Saat ini telah banyak para pelaku ekonomi, khususnya di kota-kota besar yang tidak lagi menggunakan uang tunai dalam transaksi pembayarannya, tetapi telah memanfaatkan layanan perbankan modern.
Layanan perbankan modern yang hanya ada di kota-kota besar ini dapat dimaklumi karena pertumbuhan ekonomi saat ini yang masih terpusat di kota-kota besar saja, yang menyebabkan perputaran uang juga terpusat di kota-kota besar. Sehingga sektor perbankan pun agak lamban dalam ekspansinya ke daerah-daerah. Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh kondisi infrastruktur saat ini selain aspek geografis Indonesia yang unik dan luas.
Untuk menunjang keberhasilan operasional sebuah lembaga keuangan/perbankan seperti bank, sudah pasti diperlukan sistem informasi yang handal yang dapat diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada akhirnya akan bergantung pada teknologi informasi online, sebagai contoh, seorang nasabah dapat menarik uang dimanapun dia berada selama masih ada layanan ATM dari bank tersebut, atau seorang nasabah dapat mengecek saldo dan mentransfer uang tersebut ke rekening yang lain hanya dalam hitungan menit saja, semua transaksi dapat dilakukan.
Pengembangan teknologi dan infrastruktur telematika di Indonesia akan sangat membantu pengembangan industri di sektor keuangan ini, seperti perluasan cakupan usaha dengan membuka cabang-cabang di daerah, serta pertukaran informasi antara sesama perusahaan asuransi, broker, industri perbankan, serta lembaga pembiayaan lainnya.
Institusi perbankan dan keuangan telah dipengaruhi dengan kuat oleh pengembangan produk dalam teknologi informasi, bahkan mereka tidak dapat beroperasi lagi tanpa adanya teknologi informasi tersebut. Sektor ini memerlukan pengembangan produk dalam teknologi informasi untuk memberikan jasa-jasa mereka kepada pelanggan mereka.
Program pengembangan sistem informasi di Indonesia
Program pengembanan sistem informasi (program 16.6.01) dimaksudkan untuk mengembangkan sistem informasi yang diperlukan untuk meningkatkan masuknya informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di dunia internasional, memperlancar pertukaran dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan sistem perencanaan, pengelolaan, pemantauan kegiatan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Besarnya biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk melakukan kajian, penelitian, penerapan penguasaan dibidang teknologi informasi selama kurun waktu tahun anggaran 1997/1998 sampai 2001 dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel di bawah memperlihatkan APBN (rupiah murni) untuk program pengembangan sistem informasi, tahun anggaran 1997/1998 sampai 2001
Tabel. APBN untuk pengembangan sistem informasi tahun 1997/1998 sampai 2001
| No | Tahun Anggaran | Anggaran (jutaan rupiah) |
|---|---|---|
| 1 | 1997/1998 | 28.235 |
| 2 | 1998/1999 | 32.622 |
| 3 | 1999/2000 | 24.538 |
| 4 | 2000 | 52.236 |
| 5 | 2001 | 30.956 |
Penutup
Perkembangan teknologi informasi Indonesia sangat dipengaruhi oleh kemampuan sumber daya manusia dalam memahami komponen teknologi informasi, seperti perangkat keras dan perangkat lunak komputer; sistem jaringan baik berupa LAN ataupun WAN dan sistem telekomunikasi yang akan digunakan untuk mentransfer data. Kebutuhan akan tenaga yang berbasis teknologi informasi masih terus meningkat; hal ini bisa terlihat dengan banyaknya jenis pekerjaan yang memerlukan kemampuan di bidang teknologi informasi di berbagai bidang; juga jumlah SDM berkemampuan di bidang teknologi informasi masih sedikit, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.
Diperlukan suatu kerangka teknologi informasi nasional yang akan mewujudkan masyarakat Indonesia siap menghadapi AFTA 2003 yang dapat menyediakan akses universal terhadap informasi kepada masyarakat luas secara adil dan merata, meningkatkan koordinasi dan pendayagunaan informasi secara optimal, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia, meningkatkan pemanfaatan infrastruktur teknologi informasi, termasuk penerapan peraturan perundang-undangan yang mendukungnya; mendorong pertumbuhan ekonomi dengan pemanfaatan dan pengembangan teknologi informasi.
Akhirnya, era perdagangan bebas Asean benar-benar berlaku yang kita kenal dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA) resmi berlaku di tahun 2003 ini. Inilah salah satu kenyataan globalisasi perekonomian dunia yang nyata. Integrasi perekonomian nasional dengan perekonomian regional/global seperti AFTA, APEC, WTO/GATT memang tidak bisa dihindari. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kenyataan integrasi perekonomian dunia ini memang harus dihadapi.
Pustaka
- Natakusumah, E.K., “Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia.”, Pusat Penelitian informatika – LIPI Bandung, 2002
- Natakusumah, E.K., “Perkembangan Teknologi Informasi untuk Pembelajaran Jarak Jauh.”, Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda STMIK BANDUNG, Januari 2002.
- California Distance Learning Project - working to increase access to adult basic learning services by improving distance learning infrastructure. http://www.cdiponline.org/
- http://www.bexi.co.id
- http://www.gksoft.com/govt/en/id.html
- Konsep Nusantara - 21, http://n21.net.id
- Richardus Eko Indrajit , “Evolusi Perkembangan Teknologi Informasi”, Renaissance Research Centre
- Prayoto, “Menyoal Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia”, Fakultas Teknik UNIKOM, 2002 Bandung
- The World Bank Group, E-government definition; http://www1. worldbank.org/publicsektor/ egov/definition.htm.
- Tim Koordinasi Telematika Indonesia. “Kerangka Teknologi Informasi Nasional”, Jakarta, Februari 2001.
Latar belakang
Tahun 2007 ada suatu pertemuan di Istana Wakil Presiden
yang dihadiri oleh Wakil Presiden, Menteri Pendidikan
Nasional dan para eselon I Departemen Pendidikan Nasional.
Dalam pertemuan ini Wakil Presiden menyatakan bahwa
pendidikan saat ini mutunya lebih rendah rendah bila
dibandingkan dengan pendidikan era tahunn 60-an dan
sebelumnya. Dalam hal ini ditanyakan kepada seluruh
jajaran pejabat Departemen Pendidikan Nasional yang hadir.
Beberapa hari setelah pertemuan, Dirjen Peningkatan Mutu
Pendidik dan Tenaga Kependidikan (saat itu dijabat oleh
Dr. Fasli Jalal Ph.D) meminta penjelasan kepada penulis,
pada bidang apa mutu pendidikan sekarang lebih rendah dari
mutu pendidikan era tahun 60-an. Dan sejak itu penelitian
yang dilakukan penulis lebih diintensifkan.
Substansi penelitian
Bahan penelitian diambil antara lain:
- Buku-buku yang terbit pada era tahun 60-an. 70-an sampai
tahun 2000-an
- Soal-soal ujian yang dilakukan pada era tahun tersebut
- Soal-soal ujian masuk perguruan tinggi tahun 60-an
sampai sekarang
- Wawancara dengan para siswa, guru, produk dari kurikulum
yang berlaku saat itu serta masyarakat umum
- Hasil tes yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional
terhadap guru dan calon guru
- Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kurikulum
(Balitbang DEPDIKNAS)
- Kesimpulan dari hasil pelatihan yang dilakukan penulis
Penelitian dilakukan dibatasi dari pendidikan dasar sampai
pendidikan menengah dan dibatasi pada bidang kemampuan
penulis, yaitu terutama dalam bidang ilmu-ilmu eksakta.
Sedangkan untuk bidang-bidang di luar bidang tersebut,
penulis mencoba menterjemahkan dengan sebaik-baiknya.
Hasil penelitian merupakan rangkuman dari bahan-bahan di
atas dan diusahakan bersifat seobyektif mungkin, mengingat
jangka waktu penelitian yang singkat dan keterbatasan
sarana/prasarana serta tenaga dan fasilitas yang dimiliki
oleh penulis.
Kesimpulan yang diperoleh
1. Sarana/prasarana pendidikan
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh dunia pendidikan
di Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada tahun
60-an. Pada tahun tersebut sarana pendidikan, terutama di
tingkat dasar, masih seadanya. Perpustakaan hanya dimiliki
oleh sekolah-sekolah tertentu
2. Substansi
Substansi (bahan ajar) pada umumnya menunjukan kemajuan
yang pesat. Pada bidang eksakta terutama dikarenakan
perkembangan ilmu pengetahuan. Bidang non eksakta juga
tidak ketinggalan, terutama dengan adanya teknologi baru
yang selalu ditemukan.
Bidang-bidang yang mengalami kemunduran antara lain pada
matematika, bidang-bidang yang merupakan pembinaan sikap
mental dan kreativitas.
3. Kemampuan guru
Kemampuan rata-rata guru menunjukkan semakin tahun semakin
mundur. Pada tahun 60-an seorang guru mampu mengajar lebih
dari satu bidang studi dan pada tingkat yang berbeda-beda.
Contoh: akhir tahun 60-an, guru penulis mengajar aljabar,
ilmu ukur siswa kelas 1 sampai kelas 3. Suatu saat beliau
dapat pula mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Tahun 1999 di Jakarta diadakan Lomba Kompetensi Guru se
DKI Jakarta, dimana tiap sekolah diwajibkan mengirim satu
orang wakil (guru yang terbaik sekolah pada bidangnya)
untuk mengikuti lomba kompetensi. Bidang studi yang
dilombakan: Matematika, Fisika, Biologi, Kimia dan Ekonomi
khusus guru SMA) dan Matematika, Biologi, Fisika dan
Geografi (khusus guru SMP). Hasil dari angket (diberikan
saat mendaftar diri) menunjukkan peserta datang minimum
menggunakan sepeda motor milik pribadi dan banyak yang
menggunakan mobil pribadi, tidak serta pendidikan
rata-rata S-1, sehingga bila ditinjau dari segi pendidikan
dan ekonomi, para peserta mempunyai latar belakang
pendidikan dan pendapatan yang cukup memadai. Dilihat dari
hasil tes diperoleh, sangat menyedihkan.. Alasan yamg
diajukan antara lain adalah: saya mengajar di kelas II,
jadi saya lupa materi kelas I atau saya mengajar di kelas
II dan tidak pernah mengajar kelas III, jadi saya tidak
bisa. (hasil tes terlampir).
Yang lebih menyedihkan adalah pembuat soal (Pusat
Pengujian ?) tidak mengetahui mana soal kelas 1, 2 atau 3.
Bahkan tidak dapat membedakan mana soal untuk siswa SMP
mana untuk siswa SMA (soal yang diujikan adalah soal-soal
yang harus dikuasai murid). Pada soal untuk guru SMP
terdapat soal SMA dan sebaliknya, pada tes untuk
mengetahui penguasaan materi kelas II, terdapat soal kelas
III dll. (photocopy soal masih disimpan penulis)
Tahun 1999, DEPDIKNAS memerlukan 4.000 guru Fisika, jumlah
pelamar hanya 1.400 orang. Hasil tes teori mengenai metoda
mengajar cukup memuaskan, tetapi hasil tes substansi
sangat mengecewakan. Dari 40 soal tes yang diberikan,
paling rendah benar 3 (tiga) buah sedangkan paling tinggi
12 (dua belas) buah. Atau dalam skala 0 – 10, nilai
terendah 0,75 dan nilai tertinggi 3,0 (soal berupa pilihan
ganda, tidak ada pengurangan nilai, dan soal yang diujikan
adalah soal ujian nasional)
Pada era yang sama juga dilakukan uji petik kemampuan guru
se Indonesia yang menghasilkan nilai rata-rata untuk
Matematika sekitar 2,7, nilai Fisika lebih rendah lagi
sedangkan yang tertinggi Biologi (4,..)
4. Hasil pendidikan
Hasil pendidikan, pada level yang sama, menujukkan
penurunan kualitas, terutama kesiapan untuk terjun di
masyarakat.
Analisa Perbandingan Kurikulum antara Kurikulum Indonesia,
Korea, Jepang dan China
Perbandingan kurikulum yang di bahas adalah perbandingan
pada tingkat SLTP yang merupakan hasil penelitian Pusat
Kurikulum tahun 1999 sebagai persiapan untuk kurikulum
2004 (KBK) (terlampir)
Pada perbandingan tersebut terlihat:
1. Jumlah jam belajar per tahun di Indonesia tertinggi
(1428 jam tatap muka) dan terendah Jepang (1050 jam tatap
muka)
2. Jumlah mata pelajaran terbesar adalah China (16 mata
pelajaran + 1 pertemuan sebelum/ sesudah jam belajar) dan
terendah Indonesia (10 mata pelajaran, termasuk agama)
3. Pelajaran agama hanya ada di Indonesia, pada 3 negara
lain tidak diberikan
4. Jumlah jam materi Matematika, tertinggi Indonesia (204
jam), terendah Jepang (105 jam)
5. Jumlah jam materi Fisika, tertinggi Indonesia (204
jam), terendah Jepang (105 jam)
6. Jumlah jam Olahraga, tertinggi Jepang (105 jam),
terendah Indonesia (68 jam)
7. Jumlah jam Keterampilan, tertinggi Jepang (4 × 70 jam).
terendah Indonesia (68 jam)
8. Jumlah jam Muatan Lokal, tertinggi Indonesia (204 jam),
terendah Korea (34 – 68 jam)
9. Pada keterampilan, di Indonesia hanya ada Kerajinan
tangan dan kesenian, sedangkan pada negara lain selalu
dimulai dengan Music, Fine Art dan ditambah dengan Home
economic dan Technology and Industry (Korea), Industrial
and home making (Jepang) dan Labor Skill (China)
Olahraga, yang selain diharapkan untuk menjaga
stamina/kesehatan siswa juga sebagai sarana pembinaan
mentalitas siswa (memenuhi aturan yang berlaku, sikap
sportif, siap menang atau kalah dan lain-lain) di
Indonesia kurang diberikan. Bahkan di kota besar, dengan
alasan keterbatasan lahan, materi yang diberikan hanya
dalam bentuk teori seperti panjang lapangan bola, tinggi
net bulutangkis dll. Dampak dari hal tersebut dapat kita
lihat pada prestasi olah raga negara kita, tawuran yang
sering terjadi pada pertandingan bola dan pada PILKADA.
Music dan Fine Art selain untuk mengasah kreativitas,
keterampilan, imajinasi dan ketelitian juga dapat untuk
melatih menghargai keindahan dan perdamaian. Sedangkan
Home making, Technologi and Industri dan Labour Skill
sangat berguna dalam menghadapi kenyataan hidup di
masyarakat. Keterampilan tidak bisa didapat secara
seketika. Ia harus dilatih secara terus menerus. Saat ini
di Indonesia cukup banyak tamatan S-1 yang tidak siap
bekerja, karena tidak memiliki keterampilan yang
diperlukan. Dilain pihak, kalau kita lihat industri
elektronika, garment, rokok dll buruh yang bekerja disana
adalah kaum wanita yang sudah sejak kecil dilatih mengurus
rumah tangga.
Matematika, pada tahun 2000 dan sebelumnya, siswa mendapat
6 jam per minggu. Pada kurikulum 2004 (yang belum
diresmikan oleh Menteri) menjadi 5 jam per minggu dan pada
KTSP (2006) menjadi 4 jam per minggu membuat guru bingung.
Materi yang sebelumnya (6 jam) saja tidak cukup sekarang
dijadikan 4 jam. Untuk itu sekolah terpaksa menambah
jumlah jam belajar siswa dalam bentuk /istilah pengayaan
atau bimbingan belajar. Untuk itu perlu dikeluarkan biaya
tambahan.
Selain itu, pada matematika banyak materi yang seharusnya
ada, ternyata dihilangkan pada kurikulum dan yang
seharusnya tidak ada justru dimasukkan ke dalam bidang
studi tersebut. Contoh: bab tentang simetri (pada SMP),
materi ini pada kurikulum 60-an dan 70-an masuk pada
pelajaran menggambar. Disini siswa menggambar
bentuk-bentuk simetri seperti huruf (kelas 1) dan
bentuk-bentuk lain, misalnya batik (kelas 2 dan 3). Jadi
bab simetri justru memang selayaknya dikembalikan lagi ke
tempat semula karena selain meningkatkan kreativitas,
ketelitian/keterampilan selain dapat dengan mudah dipahami
karena dipraktekkan langsung.
Materi tentang logika matematika, pada tahun 60-an sudah
diujicobakan oleh ITB dan beberapa negara di Eropa dan
Amerika. Tahun 70-an dianggap kurang relevan diberikan
pada tingkat sekolah menengah, kemudian dihilangkan. Tahun
80-an ternyata dimunculkan kembali sampai sekarang.
Pada tahun 60-an dikenal materi fungsi dan grafik yang
isinya menggambarkan suatu grafik yang persamaannya sudah
diketahui. Disini diberikan kata kuncinya seperti titik
potong dengan sumbu X dan sumbu Y, nilai maksimum/minimum
dan asimtot. Tahun 80-an muncul irisan kerucut sampai
tahun 1999. Mulai tahun 1999 irisan kerucut, karena
dianggap sulit, maka dihapus.
Dari buku-buku yang beredar, terlihat bahwa pada tahun
60-an materi yang disajikan hanyalah secara garis besar
saja. Hanya cara menjawab/menyelesaikan soal, hanya
sedikit rumus yang diberikan. Bagi yang ingin memperdalam
silakan belajar di perguruan tinggi. Pada tahun 90-an
sampai sekarang, materi yang diberikan sama dengan materi
yang diberikan pada saat guru kita kuliah. Contoh: buku
yang disusun Prof. Andi Hakim Nasution (alm), yang
cenderung menciptakan seseorang menjadi matematikawan.
Akibatnya buku tersebut hanya menjadi perhiasan di hampir
setiap sekolah karena sulit dimengerti (isinya sama persis
dengan buku yang digunakan mahasiswa IPB tingkat II).
Disediakan di meja guru, tetapi baru dibuka jika ada
pengawas. Bab irisan kerucut, karena ingin jelas, maka
munculah definisi-definisi yang menimbulkan puluhan rumus
dan sulit untuk dihafal maupun dimengerti. Akibatnya
sekarang sudah hilang dari peredaran.
Persamaan berkas garis, parabola, lingkaran yang dahulu
ada sekarang tidak ada. Dalil Stewart yang dahulu ada
ditingkat SMP dan sangat berguna pada berbagai bidang
turut hilang. Dan banyak lagi materi yang harus ada,
tetapi dihilangkan dengan beberapa pertimbangan yang tidak
masuk akal yang menyebabkan matematika sulit dipahami,
karena kesinambungan materi tidak ada.
Selain itu ada pula materi yang langsung dilaksanakan
tanpa diujicobakan terlebih dahulu, seperti graph,
integral fungsi eksponen pada kurikulum 1994. Materi ini
hanya diberikan pada 1 (satu) angkatan saja kemudian
hilang. Berapa waktu, tenaga dan uang yang dibuang secara
percuma untuk penataran, pembuatan buku paket dll.
Sinkronisasi antar mata pelajaran tidak jalan, contoh
kelas 1 SMA semester 1 diperlukan trigonometri, untuk
menyelesaikan Fisika, sedangkan materi tersebut baru
diberikan pada semester II. Pada pelajaran Fisika SMA
kelas II, diperlukan kemampuan integral, padahal materi
integral diberikan pada kelas III SMA. Yang lebih
menyedihkan adalah siswa kelas III SMA IPS yang tidak
mendapat materi matematika harus menghadapi ujian
matematika (kebijakan yang aneh dari Pusat Kurikulum).
Akibatnya Dirjen DIKDASMEN saat itu menginstruksikan hanya
gerak vertikal ke atas dan horizontal yang diberikan ke
siswa, sedangkan gerak parabola dihilangkan, ujian
matematika untuk jurusan IPS dan Bahasa ditiadakan. Dan
ini tertuang pada Kurikulum Suplemen tahun 1999.
Hal lain yang membuat pendidikan di Indonesia sangat
menurun adalah sifat tidak mau repot dari guru. Pemantauan
di lapangan, seandainya siswa mendapat nilai 3 atau 4
dalam suatu ulangan maka banyak guru yang akan
mencantumkan nilai 6 atau 7 pada rapot. Hal ini
dikarenakan mereka enggan melakukan program remedial pada
siswa. Selain itu jika mereka banyak memberi nilai rendah
kepada siswa, dianggap mereka tidak mampu mengajar dan
akan mendapat teguran dari kepala sekolah.
Semua hal yang disebutkan terakhir di atas, sudah
mendarah-daging dalam pendidikan di Indonesia. Lihat kasus
EBTANAS. Siswa dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) 1 atau 2
dapat diluluskan dengan nilai ijasah 6 atau 7 dengan
menggunakan rumus tertentu.
Kebijakan berlakunya Ujian Nasional dengan syarat nilai
terendah untuk lulus yang diterapkan dalam kurun waktu 5-6
tahun terakhir ini menimbulkan banyak protes dan demo di
masyarakat, karena mereka sudah terbiasa dengan
pengkatrolan nilai (mark-up nilai). Dan banyak waktu,
tenaga dan biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat hanya
untuk mendapatkan nilai seperti yang diinginkan, walaupun
hal ini seharusnya tidak terjadi jika siswa sudah siap
menghadapi ujian nasional.
Karena sudah terbiasa di sekolah (dari SD sampai perguruan
tinggi) maka ketika di masyarakat, semua yang didapat
langsung dipraktekkan. Tidak mau kerja keras (karena
keterampilan dan kreativitas tidak dimiliki) tapi ingin
kaya, maka paling mudah melakukan mark-up (seperti yang
dicontohkan gurunya) atau korupsi. Karena tidak terbiasa
dengan penyelesaian secara damai dan tidak ada yang
mengajarinya maka cara anarkislah yang dipilih. Lihat
gerakan mahasiswa tahun-tahun terakhir ini yang cenderung
melakykan gerakan yang anarkis dalam menyampaikan
aspirasinya. Gejala ini muncul sejak era reformasi dan
terjadi di berbagai daerah.
Buku sekolah
Buku yang diterbitkan masa kini lebih indah kovernya,
halaman dalam dibuat warna-warni yang cukup indah,
ketebalan buku untuk siswa kelas 1 SD tebalnya sampai 200
halaman lebih dengan ukuran A4. Jauh berbeda dengan tahun
60-an yang menggunakan ukuran A5, cetakan hitam putih.
Warna-warni pada buku memang indah, akan tetapi karena
indahnya, perhatian siswa, terutama siswa tingkat dasar
akan terpecah antara menikmati gambar dan materi pelajaran
(contoh lihat buku sekolah elektronik untuk kelas 1 SD)
dan juga menyebabkan tebal buku meningkat drastis. Yang
tadinya 1 halaman, sekarang menjadi 3 halaman. Ditinjau
dari penerbit ini menguntungkan, tapi memberatkan bagi
siswa karena buku bertambah berat dan dari sisi wali
siswa, pengeluaran lebih besar.
Selain itu harus dibedakan antara buku teks dan modul.
Pada modul, karena warga belajar tidak bertatap muka
langsung dengan sumber belajar, maka naskah harus lengkap
beserta contoh soal yang memadai. Sedangkan pada buku teks
sekolah, harus ada pembagian tugas. Mana bagian yang harus
dijelaskan di buku dan mana bagian yang dijelaskan oleh
guru. Kalau seluruhnya ada pada buku, siswa segan untuk
mencatat dan mendengarkan keterangan guru. Alasannya buat
apa dicatat kalau di buku sudah ada. Selain itu
kreativitas dan kemampuan guru tidak terasah.
Alangkah baiknya jika sebelum buku diedarkan, pihak
penerbit dapat mempertemukan penyusun buku dan guru dalam
suatu acara diskusi. Jangan sampai terjadi pada saat
kurikulum 1994 baru dimulai. Saat itu banyak diterbitkan
buku “keroyokan” dimana penulisnya diambil dari guru-guru
yang sedang aktif mengajar. Siswa diwajibkan membeli buku
tersebut, tetapi di sekolah anak saya, buku yang dibeli
tersebut tidak dipakai oleh gurunya (penyusun) dengan
alasan buku tersebut kurang bermutu bila dibandingkan
dengan buku yang disusun pengarang lain, sehingga terpaksa
membeli buku lagi.
Dipandang dari sisi penerbit, mungkin ada biaya tambahan,
tetapi jika si bukunya bagus dan dapat
dipertanggungjawabkan maka peminat buku tersebut akan
banyak dan keuntungan penerbit akan meningkat. Dari segi
guru, adanya informasi yang lengkap, langsung dari pembuat
buku akan banyak membantu dalam mengajar. Batasan tugas
guru dan penyusun akan jelas. Dari pihak konsumen (siswa)
akan menyenangkan jika tidak seperti “membeli kucing dalam
karung”.
Dari Buku Sekolah Elektronik yang dikeluarkan DEPDIKNAS,
terlihat kekuatan pokoknya pada buku-buku ilmu sosial
sedangkan kalau kita lihat program Pustekkom keunggulannya
terletak pada ilmu eksakta. Dan untuk meningkatkan mutu
pendidikan alangkah baiknya jika keduanya saling bekerja
sama.
Kegiatan yang sedang dilakukan
Kegiatan yang sedang dilakukan penulis saat ini antara
lain adalah mengusahakan peningkatan mutu guru
matematika/fisika agar jam yang diberikan oleh KTSP kepada
guru bisa mencukupi dan menghasilkan kualitas yang baik.
Dampak lain adalah waktu belajar siswa tidak perlu terlalu
panjang dengan mengikuti program pengayaan dan yang
sejenis serta dapat dialihkan kepada kegiatan lain.
Untuk guru bidang studi, agar dapat memahami apa yang
terjadi dengan perkembangan substansi yang diajarkan
kepada siswa, penulis telah selesai membuat kumpulan
soal-soal ujian tingkat SD, SLTP. SLTA dan ujian masuk
perguruan tinggi dari tahun 1959 sampai tahun 2008. Untuk
guru Bimbingan konseling, disediakan Direktori Beasiswa
dan Direktori Sekolah agar para siswa dapat dengan mudah
memilih sekolah sesuai dengan minat, bakat dan
kemampuannya serta sumber dana untuk dapat bersekolah di
sekolah tersebut (bagi yang tidak mampu).
Selain itu, penulis telah membuat suatu program buku
sekolah elektronik agar guru/siswa dapat memilih dan
membandingkan buku yang satu dengan buku yang lain, yang
sesuai dengan yang diinginkan (saat ini sudah berisikan
lebih dari 200 buku sekolah elektronik dari rencana 427
buku yang diterbitkan oleh DEPDIKNAS) dan pembelajaran
memakai multimedia sebagai pelengkapnya. Keduanya hasil
download dari website resmi Departemen Pendidikan Nasional
(http://bse.depdiknas.go.id dan http://e-dukasi.net).